Oleh: Muhammad Ahyaruddin, Ph.D., Ak (Dosen Prodi Akuntansi Universitas Muhammadiyah Riau/Praktisi Pasar Modal)
Pasar saham bukan hanya bergerak karena angka dan informasi, tetapi juga karena kepercayaan manusia terhadap informasi, institusi, dan masa depan. Ketika kepercayaan terguncang, keputusan yang semula tampak rasional dapat berubah menjadi gelombang kepanikan.
Jumat, 16 Oktober 2026, menjadi hari yang mengguncang pasar modal Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup anjlok 11,57 persen ke level 5.185,11. Penurunan tajam tersebut terjadi setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) – sebuah lembaga penyedia indeks saham global, mengumumkan konsultasi mengenai usulan perubahan klasifikasi pasar modal Indonesia dari emerging market menjadi standalone market. Perdagangan bahkan sempat dihentikan sementara setelah IHSG merosot lebih dari 8 persen pada awal sesi (ANTARA News, 16 Oktober 2026).
Di balik angka tersebut, ada sesuatu yang lebih besar daripada sekadar penurunan harga saham. Pengumuman MSCI memunculkan kekhawatiran mengenai transparansi struktur kepemilikan saham, dugaan perdagangan terkoordinasi, dan belum meratanya bukti perbaikan tata kelola pasar modal Indonesia. MSCI menilai kemajuan yang telah diumumkan otoritas belum menunjukkan dampak yang konsisten di seluruh pasar (MSCI, 15 Oktober 2026).
Penting dicatat, perubahan status itu masih berupa usulan yang sedang dikonsultasikan, bukan keputusan final. MSCI menyatakan keputusan akhir akan diumumkan paling lambat pada akhir Juni 2027. Namun, pasar tidak selalu menunggu sampai sebuah keputusan menjadi final untuk bereaksi. Begitu risiko dipersepsikan meningkat, investor dapat segera mengubah keputusan. Sebagian menjual saham untuk mengurangi eksposur, sebagian meninjau kembali portofolionya, sementara yang lain mungkin ikut menjual karena khawatir harga akan terus turun.
Di sinilah kita melihat bahwa pasar saham bukan hanya tempat bertemunya permintaan dan penawaran. Pasar juga merupakan tempat bertemunya harapan, ketakutan, keyakinan, dan kepercayaan.
Ketika Informasi Mengubah Perilaku
Diskursus tentang perilaku investor sesungguhnya telah dibahas oleh banyak peneliti. Dalam riset yang pernah dilakukan Ahyaruddin et al. (2017) mengenai pengaruh psikologi investor terhadap volume perdagangan saham LQ45 di Bursa Efek Indonesia mengungkapkan bahwa overconfidence dan rational expectation berpengaruh positif terhadap volume perdagangan dalam model yang mereka gunakan. Overconfidence adalah kecenderungan seseorang untuk terlalu percaya pada kemampuan atau ketepatan penilaiannya sendiri. Sementara itu, rational expectation berkaitan dengan pembentukan ekspektasi berdasarkan informasi yang tersedia. Kedua konsep ini membantu kita memahami bagaimana investor merespons perubahan pasar, meskipun keduanya tidak menjelaskan seluruh penyebab kejatuhan IHSG pada Oktober 2026.
Investor yang terlalu percaya diri mungkin merasa mampu memperkirakan dampak suatu pengumuman dengan tepat. Ia bisa menganggap penurunan harga sebagai kesempatan membeli, atau justru meyakini bahwa kejatuhan akan berlanjut sehingga segera menjual sahamnya. Investor lain mungkin menyusun ekspektasi berdasarkan informasi mengenai potensi perubahan klasifikasi MSCI. Ia memperkirakan bahwa jika Indonesia kehilangan status pasar berkembang, sebagian dana yang mengikuti indeks global berpotensi keluar dari pasar domestik.
Kekhawatiran tersebut bukan tanpa dasar. Perubahan klasifikasi dapat memengaruhi keputusan investasi dana yang menggunakan indeks MSCI sebagai acuan. Namun, besarnya dampak aktual tetap bergantung pada keputusan akhir, komposisi portofolio, dan respons para pelaku pasar.
Masalahnya muncul ketika perkiraan diperlakukan seolah-olah merupakan kepastian. Informasi yang sama dapat menghasilkan penilaian berbeda, sedangkan ketidakpastian dapat mendorong investor mengambil tindakan yang saling memperkuat.
Ketika banyak investor menjual saham secara bersamaan, tekanan jual dapat semakin besar. Penurunan harga kemudian dapat dibaca oleh investor lain sebagai tanda bahwa risiko semakin tinggi, sehingga keputusan menjual kembali meningkat. Terbentuklah lingkaran yang memperkuat dirinya sendiri: kekhawatiran mendorong penjualan, penjualan menekan harga, dan penurunan harga memperbesar kekhawatiran.
Pasar yang Rasional, Investor yang Tidak Selalu Rasional
Dalam teori keuangan, harga saham diharapkan mencerminkan informasi yang relevan tentang nilai dan prospek perusahaan. Namun, proses pembentukan harga berlangsung melalui keputusan manusia yang memiliki keterbatasan informasi, pengalaman, dan kemampuan memprediksi masa depan.
Ketika IHSG anjlok, tidak semua investor memiliki alasan yang sama untuk menjual saham. Ada yang menilai prospek pasar berubah secara mendasar. Ada yang membutuhkan likuiditas. Ada pula yang berusaha menghindari kerugian lebih besar karena tidak sanggup menanggung risiko.
Sebagian keputusan mungkin didasarkan pada analisis yang matang. Sebagian lainnya dapat dipengaruhi oleh ketakutan, tekanan kelompok, atau keyakinan berlebihan terhadap prediksi sendiri.
Kita perlu berhati-hati untuk tidak menyebut seluruh aksi jual sebagai kepanikan irasional. Perubahan persepsi risiko memang dapat menjadi respons yang wajar terhadap informasi baru. Akan tetapi, besarnya pergerakan harga juga tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa seluruh investor telah menilai informasi secara tepat.
Di sinilah psikologi investor menjadi penting. Ia membantu menjelaskan mengapa reaksi terhadap suatu informasi bisa begitu kuat, tanpa mengharuskan kita menyimpulkan bahwa setiap investor bertindak keliru. Hasil riset Ahyaruddin et al. (2017) memberi landasan untuk memahami hubungan psikologi dan aktivitas perdagangan. Namun, riset ini tidak secara langsung menguji peristiwa MSCI pada 2026. Karena itu, konsep overconfidence dan ekspektasi investor sebaiknya digunakan sebagai kerangka untuk membaca kemungkinan mekanisme perilaku, bukan sebagai bukti bahwa kedua faktor tersebut menyebabkan rontoknya IHSG.
Masalahnya Bukan Hanya Psikologi, tetapi Juga Kepercayaan
Ada pelajaran yang lebih mendasar dari peristiwa ini: psikologi investor tidak dapat dipisahkan dari kualitas informasi dan tata kelola pasar. Investor membutuhkan informasi yang dapat dipercaya untuk menilai perusahaan. Mereka perlu mengetahui siapa pemilik saham, berapa besar saham yang benar-benar tersedia untuk diperdagangkan publik, dan apakah perdagangan berlangsung secara transparan serta wajar.
Ketika aspek-aspek tersebut dipertanyakan, investor menghadapi ketidakpastian yang lebih besar. Mereka tidak hanya perlu memperkirakan kinerja perusahaan, tetapi juga menilai apakah mekanisme pasar menyediakan informasi dan perlindungan yang memadai.
Dengan demikian, kepercayaan pasar tidak cukup dibangun melalui optimisme atau ajakan agar investor tetap tenang. Kepercayaan memerlukan bukti: keterbukaan informasi yang konsisten, penegakan aturan yang kredibel, pengawasan yang efektif, dan perlakuan yang adil bagi pelaku pasar.
Perbaikan tata kelola juga tidak cukup berhenti pada pengumuman kebijakan. Pasar membutuhkan bukti bahwa kebijakan tersebut benar-benar diterapkan dan menghasilkan perubahan yang dapat dinilai.
Dalam konteks inilah pengumuman MSCI perlu dibaca bukan sekadar sebagai sentimen negatif yang mengguncang harga saham, melainkan sebagai peringatan mengenai pentingnya kredibilitas pasar modal Indonesia di mata investor domestik maupun global.
Apa yang Sebaiknya Dilakukan Investor?
Bagi investor individu, gejolak pasar merupakan ujian terhadap kualitas pengambilan keputusan. Ketika harga turun tajam, pertanyaan pertama bukanlah apakah semua orang sedang menjual atau apakah harga akan segera pulih. Pertanyaan yang lebih berguna adalah: informasi apa yang sebenarnya berubah, bagaimana informasi itu memengaruhi nilai investasi, dan seberapa besar risiko yang sanggup ditanggung?
Investor juga perlu membedakan antara penurunan harga akibat perubahan fundamental dan pergerakan yang dipengaruhi oleh reaksi jangka pendek. Keduanya dapat terjadi bersamaan, sehingga tidak bijaksana untuk langsung menganggap setiap penurunan sebagai peluang membeli atau setiap kenaikan sebagai tanda pemulihan.
Kepercayaan diri tetap diperlukan, tetapi harus disertai kesediaan menguji asumsi sendiri. Perkiraan perlu diperbarui ketika bukti berubah. Keputusan investasi sebaiknya tidak hanya didasarkan pada pergerakan harga harian, melainkan juga pada tujuan keuangan, kualitas aset, kebutuhan likuiditas, dan toleransi risiko.
Bagi otoritas dan penyelenggara bursa, pelajarannya berbeda. Stabilitas pasar bukan hanya soal menjaga agar transaksi terus berlangsung, tetapi juga memastikan bahwa pasar berfungsi secara transparan, adil, dan dapat dipercaya.
Penghentian sementara perdagangan dapat membantu meredam tekanan dalam situasi tertentu, tetapi tidak menggantikan kebutuhan untuk memperbaiki persoalan mendasar. Dalam jangka panjang, kepercayaan dibangun melalui kualitas tata kelola, keterbukaan informasi, dan konsistensi penegakan aturan.
Membaca Pasar, Membaca Diri Sendiri
Kejatuhan IHSG pada 16 Oktober 2026 mengingatkan kita bahwa pasar saham bukan mesin yang bergerak secara mekanis. Di dalamnya terdapat manusia yang menafsirkan informasi, memperkirakan masa depan, dan mengambil keputusan di tengah ketidakpastian.
Penelitian mengenai psikologi investor membantu menjelaskan mengapa keyakinan dan ekspektasi dapat memengaruhi aktivitas perdagangan. Sementara itu, peristiwa MSCI memperlihatkan bahwa reaksi pasar juga berkaitan dengan persoalan yang lebih struktural, terutama transparansi dan kepercayaan terhadap tata kelola.
Keduanya mengajarkan bahwa keputusan investasi tidak dapat dilepaskan dari kualitas penilaian maupun kualitas lingkungan tempat keputusan itu dibuat.
Investor perlu belajar mengendalikan keyakinan dan emosinya. Namun, pasar juga harus menyediakan informasi yang andal dan aturan yang ditegakkan secara konsisten. Tidak adil jika seluruh tanggung jawab atas kepercayaan dibebankan kepada investor, sementara persoalan tata kelola dibiarkan tanpa perbaikan nyata.
Pada akhirnya, pasar modal yang sehat tidak dibangun hanya oleh investor yang berani mengambil risiko, tetapi oleh investor yang mampu berpikir kritis dan institusi yang layak dipercaya. Sebab, harga saham dapat berubah dalam hitungan menit, tetapi kepercayaan yang menopang sebuah pasar membutuhkan transparansi, integritas, dan konsistensi untuk dibangun kembali.
Referensi
- Ahyaruddin, M., Widiarsih, D., & Winarso, D. (2017). "Pengaruh Psikologi Investor terhadap Volume Perdagangan Saham: Studi Empiris pada Indeks Saham LQ45 yang Terdaftar di BEI." Jurnal Akuntansi & Ekonomika.
- MSCI. (15 Oktober 2026). "MSCI Launches a Consultation on a Proposal to Reclassify Indonesia from Emerging Market to Standalone Market Status."
- ANTARA News. (16 Oktober 2026). "IHSG turun 11 persen imbas MSCI buka konsultasi ubah klasifikasi RI."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar